SILENSIUM........
Di masa lalu saya pernah mengalami lebih kurang 3 x retret yaitu waktu SMP, SMA dan Universitas. Masa retret ini memberikan kesan yang mendalam di mana masing masing peserta menjadi memiliki waktu untuk merenung, sendirian, terutama mengenai kenangan terhadap berbagai peristiwa pada masa lalu yang mengesan, baik kesan ‘baik’ maupun kesan ‘buruk’. Setiap peserta setelah mengalami retret, selalu menyatakan bahwa retret betul betul telah membuat mereka menjadi ‘manusia baru’ menjadi manusia yang memiliki semangat baru dalam menghadapi dunia di masa mendatang.
Bekerja betul betul menyita banyak waktu. Waktu menjadi sesuatu yang sangat ‘berharga’ harus betul-betul dimanage supaya produktiitas kerja terjaga. Rutinitas membuka email, menanggapi artikel blog, membaca dan membalas sms ternyata sangat menyita waktu. Browsing internet menjadi suatu ritual yang disatu sisi menjadi suatu kebutuhan bahkan cenderung ‘adiksi’ ternyata juga menyita waktu. Kehidupan para karyawan di dunia kerja dengan rutinitas di atas ternyata menyita 25% waktu kerja mereka..dimana lambat laun hal ini mungkin akan menjadi kontraproduktif. Banyak para pimpinan perusahaan apabila mengadakan rapat sekarang cenderung untuk melarang para peserta untuk membaca sms dll, karena itu memang sangatlah mengganggu. Rutinitas di atas, akan membawa kita ke jutaan informasi yang akan membuat kita sangat ‘well informed’ (istilah baru hyperconectivity)namun ternyata hal ini tidaklah sepenuhnya membuat nyaman karena banyak para pakar menyatakan ‘manusia sekarang kehilangan waktu untuk diam dan merenung, karena semua pertanyaan atau jawaban yang mereka butuhkan telah mudah mereka selesaikan dengan ‘one click’ (di-googling aja tuch). Hal ini akan membawa dampak terhadap ‘kepekaan’ manusia itu sendiri. Padahal salah satu cara untuk melatih kepekaan ya dengan ‘silensium’ tersebut ! Apakah silensium sudah tidak dibutuhkan di dunia hiruk pikuk sekarang ini ??? ataukah betul pepatah jawa yang mengatakan ‘tapa ing rame ?’
Dinamika yang sangat keras menyebabkan kita agaknya harus menuju ‘tapa ing rame’. Salah satu caranya dengan mengisi suatu KARTU SYUKUR yang membutuhkan waktu 10 menit saja. Caranya gimana : kalau anda bangun pagi...luangkan waktu untuk mengucap syukur karena anda telah bangun dan tuliskan 2 komitmen pekerjaan yang akan anda lakukan hari ini (ini memakan waktu 3 menit); kemudian siang hari (pas makan siang), tuliskan nama-nama orang yang telah membantu anda dalam proses pemenuhan terhadap komitmen anda tadi dan ucapkan terima kasih kepada mereka (ini memakan waktu 2 menit); lalu akhirnya waktu anda mau tidur..renungkan semua aktivitas anda hari ini, mana yang baik dan mana yang ‘kurang baik’; mana yang membuat anda puas atau tidak puas...buatlah janji pada diri anda untuk mempertahankan hal-hal yang sudah baik dan memperbaiki hal-hal yang ‘kurang baik’...tutup hari ini dengan doa syukur kepada Tuhan karena telah menjalani hari-hari ini dari pagi sampai malam (ini memakan waktu 5 menit). Saya mencoba melakukan hal di atas...namun hanya tahan 2 minggu untuk melakukannya (targetnya 1 bulan), namun dari pengalaman 2 minggu itu, memang hari-hari kita menjadi hari yang ‘penuh makna’ dan kita menjadi orang yang penuh dengan motivasi. Terima kasih kepada mas Kristio yang telah mengenalkan KARTU SYUKUR ini di pelatihan AMOTRAP...ternyata’ silensium’ dengan cara ‘tapa ing rame’ benar-benar bisa dilakukan. yw-motivation

Comments