Waktu saya masih SD, kegiatan di masa itu terasa sangat menyenangkan. Sekolah dimulai jam 7 pagi, kemudian jam 12 pulang (setelah kelas 3 itu). Kemudian kalau sore ada kegiatan misalnya Pramuka (jumat atau sabtu). Kalau pagi setiap jumat ada Senam Kesehatan Jasmani (SKJ), kemudian dalam pelajarannya ada pelajaran prakarya, nyanyi, bercocok tanam dll. Kalau prakarya saya masih ingat kita pernah bikin puzzle, wayang dari kertas karton dengan tatah, lambang negara garuda pancasila yang dibuat dari triplek dll. Yang putri mungkin masih ada ketrampilan menjahit, memasak dll. Kalau untuk seni, mungkin kita bersama-sama memainkan musik angklung, wah menarik sekali.
Namun saat ini, anak saya kedua, Luki yang duduk di SD kelas 3, kayaknya tidak memiliki pelajaran ketrampilan seperti dulu lagi.Kalaupun ada terbatas pada ketrampilan memakai kertas atau lai-lain, namun pekerjaan memakai triplek sudah sangat jarang. Main angklung apa lagi, yang ada malah karawitan, itu pun sebagai kegiatan ekstra kurikuler. Kalau dibandingkan dengan pelajaran masa lalu, berbagai kegiatan ketrampilan bikin puzzle, wayang atau garuda pancasila itu memiliki makna yang beraneka ragam lho, antara lain : kreativitas, kerjasama, mengenal budaya lokal, mengenal lambang negara dll. Bahkan anak saya yang SMA, kayaknya belum pernah melukis dengan kanvas juga, padahal saya mengerjakan hal yang sama sewaktu SMP.
Kompas dalam artikelnya tanggal 4 Feb 2008 menyatakan, bahwa anak pada masa sekarang tumbuh dalam suasana pendidikan yang cukup ketat (bagi yang menyekolahkan lho). Di mana pagi anak bersekolah, sore masih le musik, bahasa dll. Kemudian sampai rumah masih harus mengerjakan PR dll. Ditambah lagi, rata2 anak sekarang sangat diproteksi oleh ortunya. Contoh saja, saya punya teman yang anaknya tidak boleh menonton acara TV setelah dia pulang sekolah. Dia hanya boleh nonton TV kalau orang tuanya ada. Wow..hebat niah, mungkin ortu akan memilihkan acara yang cocok ya untuksi anak (Huebaaaaaaaaaat tenan). Juga di artikel tersebut dinyatakan, bahwa orang tua di masa kini cenderung over protected.
Kalau kita perdalam lebih jauh, apa yang dilakukan oleh ortu pada masa sekarang memang tidak sepenuhnya keliru..contoh tentang acara televisi memang sudah sangat memprihatinkan, terlalu banyak acara yang sebenarnya tidak layak untuk ditonton oleh anak-anak, dari sinetron yang sifatnya hedonis, sinetron anak yang sim salabim, cerita mistik, horor dll, di mana kita ortu memang harus pandai dalam memilahnya. ORTU over protected, juga tidak keliru, karena pada saat ini memang dunia sungguh kacau, ada penculikan anak dengan cara menabrak sepeda anak yang dinaiki, bahkan ada perampokan mobil jazz dengan membunuh remaja yang menyopirnya seperti terjadi di jakarta, sungguh memang suasana yang cukup mencekam bagi ortu yang memiliki anak2 kecil. Dikatakan pula dalam Kompas tersebut, bahwa anak2 juga hidup dalam lingkungan keluarga yang nyaman, di mana kebohongan sesedikit mungkin terjadi, sudah terjadi keterbukaan dalam cara pengasuhan anak di masa sekarang terutama di negara ini.
NAmun disebutkan pula ada sisi lain, anak sekarang kurang diterjunkan pada kondisi riil di mana mereka kurang menyadari bahwa dunia riil itu kejam. Tidak selamanya orang yang kita temui adalah jujur seperti ibu mereka...dunia juga keras, sikut sana sikut sini..nah anak2 yang hidup di lingkungan nyaman ini menjadi sulit untuk beradaptasi dengan model demikian.
Sharing pengalaman pribadi, saya pun dibesarkan di lingkungan yang nyaman, ortu jujur dengan kondisi yang ada, sering kumpul bersama untuk sharing dan saya waktu kecil tidak serta merta boleh dolan sampai malam. Saya akui waktu berhadapan dengan hal-hal yang aneh2 di masyarakat, awal mulanya saya tidak siap, namun kalau kondisi memang yang terjadi demikia, ya apa boleh buat kita harus mencoba berada di dalamnya dan beradaptasi.
Lalu apa yang harus kita perbuat ? tetap memberikan suasana kenyamanan..over protected dll ?? Ya lingkungan yang nyaman itu pasti, proteksi perlu..namun yang harus tidak boleh dilupakan, yaitu anak mulai diterjukan ke dunia masyarakat yang cukup kompleks. Kalau anda ingin anak anda menguasai alat musik piano misalnya, jangan kursuskan secara privat, tetapi kursuskan dalam bentuk semi grup atau grup, sehingga memicu anak untuk berinteraksi. Kalau anak sudah agak besar, silakan ikutkan karang taruna di daerah anda, itu akan megembangkan pribadi anak anda. Kalau anak anda suka ketrampilan untuk membuat karya, elektronik, doronglah untuk berpartisipasi dalam komunitas yang cukup besar, sehingga dia bisa bersosialisasi, kalau anda membelikan HONDA TIGER, biarkan dia ikut komunitas TIGER tersebut, dia akan sharing masalah perawatan motor, modifikasi motor dll.
Pengalaman yang dimiliki anak di luar pendidikan sekolah, adalah sangat penting. Dengan berinteraksi dengan orang lain, anak akan memiliki pengalaman baru dimulai dari interaksi, sosialisasi, pengalaman bongkar mesin, modifikasi motor, konser musik, bikin pemancar radio dll. Itu semua akan mengasah soft skill anak, yang akan sangat penting dalam kehidupannya kelak. Hal2 seperti ini pada sat ini diistilahkan sebagai TACIT KNOWLEDGE yaitu ilmu yang diperoleh di luar jenjang akademik, yang akan sangat menunjang pribadinya di masa mendatang. Jangan remehkan kemampuan memasak, bikin roti, okulasi tanaman, modifikasi motor, melukis, memainkan musik dll, selaam itu terasah di suatu komunitas dan berani ditampilkan di luar, maka anak anda akan berkembang dengan luar biasa.
IP tinggi penting, TOEFL score tinggi penting..namun TACIT KNOWLEDGE itulah modal sebenarnya untuk hidup survive di masyarakat ini. Jangan lupa, Obama yang ikut pilpres Amerika, secara akademik biasa2 saja, tetapi mungkin TACIT KNOWLEDGE-nya bagus
Buatlah dunia ini semakin berkembang....dengan generasi muda kita
yw-motivation